Selanjutna part 1 bercerita tentang waktu yang berlalu, di mana tuk kesekian kali, mesti mengingatnya, padahal sudah beranjak mendekati 1 tahun setelah kepergiaannya.
Sebenarnya bukan harus menangisi ataupun menentang takdir-Nya. Namun, jika tiap kali bertandang di pemakaman itu, q seperti tak lagi bernapas panjang, karena sejauh ini, ketika hidup, q belum bisa bersujud dan menyentuh telapak kakinya, yang begitu indah sebagai bagian dari surga yang dimiliki.
Memang telah menyadari, sejauh perantauan tiap kali mencoba menghibur dan mendoakannya. Agar tetap tersenyum, bahwa anakmu baik-baik saja, begitu pula sebaliknya. Rasa kangen yang terluapkan, jika kepulangan kelak akan merawat dan menjaga selamanya.
Setelah ada kabar itu, beranjak berlari tuk keberangkatan pesawat pulang. Hanya terpikirkan q ingin segera menjumpainya yang kini terlelah dalam sakitmu. Raut yang terlelah, berusaha mencoba tersenyum, tuk buah hatinya. Sayu dan berusaha bangkit tuk memeluk dan mencium anaknya yang lama ditinggal.
Hingga kepulangan q, tak hentinya berusaha membuatnya tegar, agar kelak dapat kembali tersenyum. Seperti senyum sebelum q beranjak meninggalkannya beberapa waktu kemarin. Namun kelelahan yang panjang, dalam terbaring pun tak henti-hentinya ia berucap sholawat, menghaturkan kalimat-kalimat takwa. Itulah yang membuat q bangga. Tak henti-hentinya pula, ia meminta dibimbing sholat, walaupun ketika selesai, ia sempat menegur, sebentar anak q, tahlil dulu, tasbih, baru tahmid.
Terhenyak dan takjub, ketika malam itu, ia sempat bertanya, bagaimana adik. Sempat q jawab, adik sudah pulang, pesawat baru saja mendarat di Jogja, tinggal dijemput di Solo balapan, karena sudah malam, ia naik Pramex. Nanti juga langsung menemui Ibu.
Ya sudah, kata-katanya kembali terdiam dalam tidurnya. Dua hari, dalam lelahnya, ia seringkali bertanya tentang suatu hal, yang kadang q sendiri tak memahami, q hanya berpikir, mungkin Ibu kelelahan selama tak ada yang menegurnya, untuk istirahat. Karena ketika kami berdua diperantauan, hanya mendengar dari beberapa kerabat, ibu tak pernah istirahat.
Hingga malam, kelelahan Ibu sedikit sembuh dan meminta dibantu untuk duduk. Sebentar dan kemudian minta dibaringkan lagi. Tak ada kata setelah itu, dan tertidur. Sampai beranjak malam, setelah sholat malam, dari fajar menjelang subuh, dalam rangkulan kerabat, Ibu benar-benar telah tiada. Tak ada kata terakhir yang sempat dikatakan, Namun dalam benak, q tahu Ibu hanya meminta untuk selalu menjaga semuanya. Tak ada yang mampu berkata-kata, selain q menghaturkan selamat jalan dalam rindu q yang sebentar, dalam doa untuk keridhoan-Nya.
Tak ada yang bisa diberikan selain terima kasih telah memberi waktu dan tempat terindah dalam buaianmu, dari sejak melihat dunia hingga menantang dunia ini, memang tidak sempat kenang-kenangan dari perantauan ini terberikan. Namun segala senyummu telah mampu memberi semangat tuk tetap sabar dan kuat menjalani hidup ini, walau tanpamu sekarang. Tak ada to be continued, kecuali thanks for my mam, kami bangga menjadi buah hatimu.
Rabu, 01 Juni 2011
Minggu, 24 April 2011
Ojo pernah dikejar, …
…, Sebuah sinopsis seringkali berujar, “kejarlah ketika kamu masih bisa tuk berlari.” Tapi tak semua mesti menjadi rencana & target. Karena kadang nilai sebuah kesetiaan & harapannya lebih mengikatnya. Kebahagiaannya tak lagi bisa keruh. Bening. Sekali2 jangan pernah berusaha membeningkan. Karena terlalu bening. Kadang sekali keruh. Akan menjadi khilaf & sesal di kemudian hari.
…, FM dalam syairna, bolehlah semakin mengejar dan siap untuk semakin menjauh. Karena kadang hide & seek. Akan lebih memudahkan untuk menutup rahasia. Walaupun kadang sedikit terbongkar, namun itulah kunci bahwa kita tak semestinya berbohong. Demi untuk itu.
…, Lagi pula, falsafah ada udang dibalik batu, kadang udangnya sendiri terlalu lelah. Kenapa mesti Ia yang dikorbankan untuk perumpamaan itu. Padahal udang itu enak bila disajikan. Sebenarnya udang juga terlalu letih ketika mesti di balik batu terus, tapi sebenarnya aman, ketika jaring & kailpun nyangkut di atasnya. Tapi ia juga mesti berusaha keluar, karena suasana kadang membosankan bila harus bersembunyi.
…, Harus diakui, terlalu mengejar yang tak pasti, akan membuat kita semakin mendewakannya. Lagi pula, itu juga tak akan mampu menuai hasil. Semestinya berserah diri dan tawakal dengan segala yang pernah dilakukan. Kita mesti beranjak, jika di tempat ini usang, maka di tempat lain belum tentu rapuh. To be continued untuk itu. (rezo)
…, FM dalam syairna, bolehlah semakin mengejar dan siap untuk semakin menjauh. Karena kadang hide & seek. Akan lebih memudahkan untuk menutup rahasia. Walaupun kadang sedikit terbongkar, namun itulah kunci bahwa kita tak semestinya berbohong. Demi untuk itu.
…, Lagi pula, falsafah ada udang dibalik batu, kadang udangnya sendiri terlalu lelah. Kenapa mesti Ia yang dikorbankan untuk perumpamaan itu. Padahal udang itu enak bila disajikan. Sebenarnya udang juga terlalu letih ketika mesti di balik batu terus, tapi sebenarnya aman, ketika jaring & kailpun nyangkut di atasnya. Tapi ia juga mesti berusaha keluar, karena suasana kadang membosankan bila harus bersembunyi.
…, Harus diakui, terlalu mengejar yang tak pasti, akan membuat kita semakin mendewakannya. Lagi pula, itu juga tak akan mampu menuai hasil. Semestinya berserah diri dan tawakal dengan segala yang pernah dilakukan. Kita mesti beranjak, jika di tempat ini usang, maka di tempat lain belum tentu rapuh. To be continued untuk itu. (rezo)
Jumat, 22 April 2011
..., Sejumlah Alasan, ...
.., ketika ingin berarti, mengapa kata-kata 'tidak' menelusup tiba-tiba, ...
..., sejumlah kata-kata terlontar 'datar' ,sedangkan q berusaha membuat suasana waktu yang mengekangmu bisa terlalui, ..., ketika tak sama, tlah kupikirkan caranya agar mudah, karena pengalaman tlah membantu menyelesaikan, ...
..., ketika tertawa terbahak2, q berusaha tenang & menjaga hati agar tak terbakar, sedangkan kau tak merasakan, ...
..., ketika mengartikan tanggung jawab, sedangkan kau berlindung tanpa tanggung jawab itu, ...
..., ketika lelah, sedangkan kau hanya berujar "tidak sementara', ...
..., ketika maaf, sedangkan kau tak berusaha mengatakan ....
(Bukan untuk siapa2)
..., Sebenarnya yang pernah ingin kau tahu !!!
...., bukan sebuah sifat itu yang q tunjukkan, q berusaha membuat hati ini ramai, lagian betapa kuatna sebagian godaan itu, di tambah berapa kali harus bertahan dalam cobaan yang bertubi2, dari awal ketika semua meninggalkan, dalam 2 sosok restu yang telah menghilang, padahal q ingin menjaganya & berbakti.
..., keluarga q adalah sebagian kata2 yang terucap dari sahabat, teman. Tak pernah merasa bosan, canda tawa, kritik, acuhan, dan juga cemohan. itu sangat berarti, tak pernah merasa terluka. justru dengan itulah, q mngerti hebatnya.
..., jika penempatan itu salah, maka itulah kelebihan q, jika penempatan itu benar, maka itulah kekurangan q. karena jika benar belum tentu itu yang terbaik, dan kadang lebih menyakitkan jika hanya semu, ...
..., keluarga q adalah sebagian kata2 yang terucap dari sahabat, teman. Tak pernah merasa bosan, canda tawa, kritik, acuhan, dan juga cemohan. itu sangat berarti, tak pernah merasa terluka. justru dengan itulah, q mngerti hebatnya.
..., jika penempatan itu salah, maka itulah kelebihan q, jika penempatan itu benar, maka itulah kekurangan q. karena jika benar belum tentu itu yang terbaik, dan kadang lebih menyakitkan jika hanya semu, ...
Senin, 18 April 2011
Sabtu, 16 April 2011
Sabtu, 09 April 2011
Sistem Kerja Editorial
1 Teknis
a. Pembagian Kerja
1) Koordinator 1 ( Rosid > Bhs. Ind)
- Netty (Bhs. Ind)
- Agus (ekonomi)
- Alvin (magang)
2) Koordinator 2 (Fajar > Bhs. Ind)
- Mbak maria (English)
- Ari Kurniawan (sosiologi)
- Santi (matematika)
- Armin (magang)
3) Koordinator 3 (Sapto > PPKN )
- Fitri (Kimia)
- Murni (Sejarah)
- Evi (magang)
- Antik (magang)
b. Teknis kerja
- Naskah awal di data Mbak netty (termasuk lemburan)
- Pembagian editan naskah dari Koordinator 1 disampaikan ke Koordinator 2 dan 3 untuk dibagi ke tim.
- Koordinator 1, 2, 3 bertanggung jawab editan Tim (pengecekan keseluruhan, kelengkapan)
- Fix editan, masuk ke mbak netty tuk di data lagi.
- Masuk setter utama oleh Koordinator 1.
- Cek akhir/finish pada masing Koordinator.
- Masuk Setter lagi baru quality control.
2. Non teknis
a. Hal-hal umum
- Permasalahan-permasalahan terkait dengan Komplain masalah editan dari penerbit diterima Koordinator 1 untuk ditindaklanjuti bersama Koordinator 2 dan 3. (tim)
- Hal-hal yang berkaitan dengan divisi editor (masalah2 umum yang berkaitan dengan penulis dan setter, dll)
- Editor wajib memahami tata penulisan, format penulisan penerbitan, kelengkapan kurikulum (SKKD, Silabus, Promes, Prota, RPP), dan petunjuk tentang editan.
- Editor wajib bekerja sama dengan tiap-tiap koordinator naskah, ilustrator dan setter.
- Koordinator editor Siap Antar Jaga bila dibutuhkan.
b. Tugas editor
- Penyesuaian kurikulum (SKKD, Silabus) dengan isi materi.
- Kelengkapan tata penulisan (isi, ikon) sesuai format penulisan.
- Melengkapi kekurangan kelengkapan naskah sesuai kemampuan. Dengan catatan : naskah tidak terlalu fatal (ketidaksesuaian SKKD dengan isi, kekurangan jumlah soal/soal sama terlalu banyak).
Selasa, 22 Maret 2011
Bapak & Ibu
("Terima kasih tuk hal2 yang tlah tersampaikan untuk anakmu")
Begitu banyak hal terindah tersampaikan
dalam hatimu untuk dunia
Berjuta nasihat bak perhiasan jernih
tertanam dalam langkah-langkah ini
Semesta bijak merengkuh jiwa
yang kini menghilang tanpa lelah
Menaungi wacana suci dalam garis pena
mengukir indah prasasti untuk anakmu
Jauh menghilang dalam perjalanan hidup
berpetualang bahagia menghadap pencipta
Yang tetap hidup dalam kesejukan
tak pernah mati, tak terkikis habis
Semua bangga mendamai harum
Begitu banyak hal terindah tersampaikan
dalam hatimu untuk dunia
Berjuta nasihat bak perhiasan jernih
tertanam dalam langkah-langkah ini
Semesta bijak merengkuh jiwa
yang kini menghilang tanpa lelah
Menaungi wacana suci dalam garis pena
mengukir indah prasasti untuk anakmu
Jauh menghilang dalam perjalanan hidup
berpetualang bahagia menghadap pencipta
Yang tetap hidup dalam kesejukan
tak pernah mati, tak terkikis habis
Semua bangga mendamai harum
Ku nanti perjumpaan kelak
dalam ukiran bahagia disana
dalam ukiran bahagia disana
INTERPRETASI BUNGA
Taman ini sengaja untuk bunga,
biar bisa bercengkrama. Pagi ini
terlihat mekar menghias harum langkah sunyi.
Tanpa air mata, tanpa denyut nadi.
Sintesa kecil coba merenung, wajah-wajah sayu,
letih tanpa arti. Hanya interpretasi saat ini. keraguan atas hidup,
atas pijak terhenti. Akankah semu semakin berpijar
bila seharum tak berharap datang.
Seperti telah hilangkan warna kelopak
ketika ranting terlelah menyangga, gugur layu
di taman sekian kali kita berbagi.
Seindah memori kini berujar
telah mati cerita taman. Coba renungkan
harum masa lalu di taman ini sendiri.
Sidoarjo, 30 September 2005
Taman ini sengaja untuk bunga,
biar bisa bercengkrama. Pagi ini
terlihat mekar menghias harum langkah sunyi.
Tanpa air mata, tanpa denyut nadi.
Sintesa kecil coba merenung, wajah-wajah sayu,
letih tanpa arti. Hanya interpretasi saat ini. keraguan atas hidup,
atas pijak terhenti. Akankah semu semakin berpijar
bila seharum tak berharap datang.
Seperti telah hilangkan warna kelopak
ketika ranting terlelah menyangga, gugur layu
di taman sekian kali kita berbagi.
Seindah memori kini berujar
telah mati cerita taman. Coba renungkan
harum masa lalu di taman ini sendiri.
Sidoarjo, 30 September 2005
BERBALIK ARAH
Galih pagi ini terlalu bising merangkai sebuah kata-kata penting untuk Tina. Wajar Galih tidak mampu mengungkapkan kata-kata itu seumur hidupnya, bukan sebuah alasan dia tidak pernah mengungkapkan kata-kata itu sebelumnya, namun sekarang yang dia hadapi adalah seorang Tina yang sedang membumbung tinggi kariernya di entertainment. Terlalu berat bagi Galih ketika pertama kali menginjakkan kakinya di perumahan elite milik keluarga Tina, kalau tidak teguran satpam dan sigap Herder yang menyalak bila terlalu asing melihat orang. Namun Galih bukan seorang kerdil yang terlalu pendek dilihat orang berbadan tinggi, kedewasaan sikap sedia menjadikan Galih wibawa dan membuat itu semua hilang dari benaknya.
“Pagi Pak! sapa Galih kepada pak satpam jaga.
“Pagi! Ada perlu apa?” sahut satpam sambil memandang Galih dengan sinis, seolah menginterograsinya.
“Bisa ketemu Tina Pak?
“Tina siapa? di sini tidak ada yang namanya Tina, kalau Tina pembantu ada di samping perumahan ini’ kata satpam ketus.
“Bukan Tina itu Pak! Tina yang sekarang terkenal itu!”
“Tina toon!”
“Bukan Pak!” kata Galih sedikit kesal dan memutuskan untuk pergi saja daripada semakin ruwet urusannya.
Dalam perjalanannya diwarnai kejengkelan dan sedikit mengumpat pada satpam yang baru saja ditemui, padahal menurutnya, perumahan tadi benar milik Tina. Terbayang hasrat untuk mengungkapkan seakan tiada arti lagi di hati Galih, sejumlah kata-kata yang telah disusunnya seolah sudah tidak ingin menjadi bagian dari pikirannya, semua sirna ketika Galih jatuh dari tempat tidurnya.
“Sialan” umpat Galih meringis kesakitan.
“Lih....Galih cepat bangun! Teriak mBoknya.
“Iya mBok!” Sahut Galih dan beranjak keluar dari kamar tidurnya.
“Ada apa mBok?”
“Begini Lih, mBok sekarang mau tirakatan pernikahan Sumi, kamu jaga rumah dulu, soalnya Pak kades katanya mau ke sini ngurus sertifikat tanah” kata simbok sambil membenahi kebayanya.
“Ah simbok! Kan ada Nunik?”
“Nunik mau ikut tirakatan sama simbok, kamu saja yang jaga rumah”
“Ya sudah kalau begitu” kata Galih sambil menulisi amplop sumbangan.
Galih terbayang ketika pertama kali dia bertemu Tina dalam acara Talk Show di Solo Grand Mall, Galih pernah menjadi panitia acara tersebut, sehingga wajar bila Galih mengenal Tina. Semangat juang Galih dalam menarik simpati Tina terobsesi oleh pepatah jawa Tak akan lari gunung dikejar menjadikan Galih mempunyai niat untuk mengenal Tina lebih jauh.
Bait-bait syair lagu kembali memecah keheningan rumah Galih, suara penyiar radio GSM dengan lembutnya mengisi suasana diri seorang mahasiswa semester tujuh ini. Lagu-lagu Ebiet terdengar mengalun seakan tahu Galih sedang mendendam rasa hatinya yang kacau, yang merindukan di mana gerangan Tina sebagai curahan rasa sayangnya itu.
“tulalit.......tulalit.........” Suara dering ringtone sms. Tertulis pesan sms berbunyi:
Mas Galih, skrg q di SGM, u bs ke sni ndak?, Tina.
Sender:
+6285677963215
Kontan Galih tersenyum setelah membaca pesan sms tersebut, wajah muram yang bergelanyut dari tadi siang kini berubah menjadi warna cahaya, jiwa Galih semakin terasa kuat untuk segera menemui Tina yang telah menjadi pujaannya itu.
Solo Grand Mall kini ramai, pusat tongkrongan anak muda Solo ini tampak begitu indah dilihat Galih, karena keindahannya tidak hanya gedungnya, namun kehadiran Tina di tempat ini membuat dirinya mengagumi pusat perbelanjaan ini. Peluh semakin menetes di wajah Galih, namun niatnya untuk segera menemui Tina semakin membuat dirinya bersemangat.
Di tengah kerumunan anak muda, Galih sudah tidak memperdulikan lagi, setengah berlari sambil melihat kanan-kiri kalau saja Tina sudah dilihatnya ataupun Tina melihat kedatangannya. Namun lebih dari satu jam mencari ternyata wajah Tina tidak kelihatan.
Galih bersandar pada pagar pembatas lantai tiga sambil mengusap peluh yang sedari tadi terus mengucur dari wajahnya. Di antara lelah, Galih mencoba untuk kembali mencari Tina, namun ternyata hasilnya sama saja sampai terdengar dari pengeras suara memberitahukan kalau lima belas menit lagi Solo Grand Mall akan segera tutup.
Dengan langkah gontai, Galih beranjak meninggalkan tempat itu. Wajah murung kembali menyapa Galih dan dia kini terlelap di ranjang tidurnya, bahkan omelan simboknya kini sudah tidak terdengar lagi ditelinganya
Galih tak menyadari kekeliruannya, sebenarnya sms Tina memang diterima Galih hari ini, namun Tina mengirimnya satu minggu kemarin, kecerobohan memang menjadikan semuanya tanpa disadari dan menuai hasil lelah.
“Pak, kalau ada yang mencari saya, namanya Galih, suruh masuk saja, biasanya dia memanggil saya Tina.” kata Tina kepada satpam rumahnya.
Sebuah pertanyaan? mengapa Galih tidak ke rumah Tina, apakah dia terlalu takut mimpinya menjadi kenyataan.
081007, sukoharjo
Galih pagi ini terlalu bising merangkai sebuah kata-kata penting untuk Tina. Wajar Galih tidak mampu mengungkapkan kata-kata itu seumur hidupnya, bukan sebuah alasan dia tidak pernah mengungkapkan kata-kata itu sebelumnya, namun sekarang yang dia hadapi adalah seorang Tina yang sedang membumbung tinggi kariernya di entertainment. Terlalu berat bagi Galih ketika pertama kali menginjakkan kakinya di perumahan elite milik keluarga Tina, kalau tidak teguran satpam dan sigap Herder yang menyalak bila terlalu asing melihat orang. Namun Galih bukan seorang kerdil yang terlalu pendek dilihat orang berbadan tinggi, kedewasaan sikap sedia menjadikan Galih wibawa dan membuat itu semua hilang dari benaknya.
“Pagi Pak! sapa Galih kepada pak satpam jaga.
“Pagi! Ada perlu apa?” sahut satpam sambil memandang Galih dengan sinis, seolah menginterograsinya.
“Bisa ketemu Tina Pak?
“Tina siapa? di sini tidak ada yang namanya Tina, kalau Tina pembantu ada di samping perumahan ini’ kata satpam ketus.
“Bukan Tina itu Pak! Tina yang sekarang terkenal itu!”
“Tina toon!”
“Bukan Pak!” kata Galih sedikit kesal dan memutuskan untuk pergi saja daripada semakin ruwet urusannya.
Dalam perjalanannya diwarnai kejengkelan dan sedikit mengumpat pada satpam yang baru saja ditemui, padahal menurutnya, perumahan tadi benar milik Tina. Terbayang hasrat untuk mengungkapkan seakan tiada arti lagi di hati Galih, sejumlah kata-kata yang telah disusunnya seolah sudah tidak ingin menjadi bagian dari pikirannya, semua sirna ketika Galih jatuh dari tempat tidurnya.
“Sialan” umpat Galih meringis kesakitan.
“Lih....Galih cepat bangun! Teriak mBoknya.
“Iya mBok!” Sahut Galih dan beranjak keluar dari kamar tidurnya.
“Ada apa mBok?”
“Begini Lih, mBok sekarang mau tirakatan pernikahan Sumi, kamu jaga rumah dulu, soalnya Pak kades katanya mau ke sini ngurus sertifikat tanah” kata simbok sambil membenahi kebayanya.
“Ah simbok! Kan ada Nunik?”
“Nunik mau ikut tirakatan sama simbok, kamu saja yang jaga rumah”
“Ya sudah kalau begitu” kata Galih sambil menulisi amplop sumbangan.
Galih terbayang ketika pertama kali dia bertemu Tina dalam acara Talk Show di Solo Grand Mall, Galih pernah menjadi panitia acara tersebut, sehingga wajar bila Galih mengenal Tina. Semangat juang Galih dalam menarik simpati Tina terobsesi oleh pepatah jawa Tak akan lari gunung dikejar menjadikan Galih mempunyai niat untuk mengenal Tina lebih jauh.
Bait-bait syair lagu kembali memecah keheningan rumah Galih, suara penyiar radio GSM dengan lembutnya mengisi suasana diri seorang mahasiswa semester tujuh ini. Lagu-lagu Ebiet terdengar mengalun seakan tahu Galih sedang mendendam rasa hatinya yang kacau, yang merindukan di mana gerangan Tina sebagai curahan rasa sayangnya itu.
“tulalit.......tulalit.........” Suara dering ringtone sms. Tertulis pesan sms berbunyi:
Mas Galih, skrg q di SGM, u bs ke sni ndak?, Tina.
Sender:
+6285677963215
Kontan Galih tersenyum setelah membaca pesan sms tersebut, wajah muram yang bergelanyut dari tadi siang kini berubah menjadi warna cahaya, jiwa Galih semakin terasa kuat untuk segera menemui Tina yang telah menjadi pujaannya itu.
Solo Grand Mall kini ramai, pusat tongkrongan anak muda Solo ini tampak begitu indah dilihat Galih, karena keindahannya tidak hanya gedungnya, namun kehadiran Tina di tempat ini membuat dirinya mengagumi pusat perbelanjaan ini. Peluh semakin menetes di wajah Galih, namun niatnya untuk segera menemui Tina semakin membuat dirinya bersemangat.
Di tengah kerumunan anak muda, Galih sudah tidak memperdulikan lagi, setengah berlari sambil melihat kanan-kiri kalau saja Tina sudah dilihatnya ataupun Tina melihat kedatangannya. Namun lebih dari satu jam mencari ternyata wajah Tina tidak kelihatan.
Galih bersandar pada pagar pembatas lantai tiga sambil mengusap peluh yang sedari tadi terus mengucur dari wajahnya. Di antara lelah, Galih mencoba untuk kembali mencari Tina, namun ternyata hasilnya sama saja sampai terdengar dari pengeras suara memberitahukan kalau lima belas menit lagi Solo Grand Mall akan segera tutup.
Dengan langkah gontai, Galih beranjak meninggalkan tempat itu. Wajah murung kembali menyapa Galih dan dia kini terlelap di ranjang tidurnya, bahkan omelan simboknya kini sudah tidak terdengar lagi ditelinganya
Galih tak menyadari kekeliruannya, sebenarnya sms Tina memang diterima Galih hari ini, namun Tina mengirimnya satu minggu kemarin, kecerobohan memang menjadikan semuanya tanpa disadari dan menuai hasil lelah.
“Pak, kalau ada yang mencari saya, namanya Galih, suruh masuk saja, biasanya dia memanggil saya Tina.” kata Tina kepada satpam rumahnya.
Sebuah pertanyaan? mengapa Galih tidak ke rumah Tina, apakah dia terlalu takut mimpinya menjadi kenyataan.
081007, sukoharjo
Di seberang Laut
Dalam terang di seberang laut
mengikis catatan tersendiri
riak ombak itu. Tengadah
Mengatup ramai sejenak
Dalam desah di pulau hijau
mengukir bait sepenggal
raut belantara. Terpekur
menampar kesadaran khayal
Dalam sangkaan derai sungai
mentahtakan haluan kelotok
mendayung papan. Tergerus
melintasi sejuta pesona gelombang
Dalam sisi buram mimpi
menghantar bunga-bunga ulin
mengharum batang. Tergores
senyum ide tinta rajah
Dalam pesona mahligai
memfilosofi tentang harapan
temaram cahaya. Bernostalgia
melambai titik terang batas
Paray, 29 March 2010
Senyum ‘Kelotok’ Rantau
Pagi. Tersandar dalam tautan buritan. Sepercik embun menempel di dua buah dayung yang tersusun rapi di atas tali rotan yang tergulung bulir-bulir serabut. Sejenak meliuk-liuk disapu kecil gelombang sungai yang beriak. Sepintas terlihat gulungan jaring dan kail yang ikut pula bersandar di tengah galangan yang berusaha mendepa umpan untuk meraih isi bawah air.
Siang. Sandaran tautan buritan terlepas, dengan deru sedikit menggema meninggalkan tepi riak menuju ke tengah. Selintas kelok-kelok air mengikuti langkah itu. Menghempas sedikit gelombang yang memecah sampingnya. Beranjak lepas, kadang membelah riak, kadang ikuti riak yang menghantarkan dalam perjalanannya. Sampai di tengah dengan deru semakin mengecil dan lambat laun meredup. Hanya kelok bergoyang-goyang berdansa searah lambaian. Kedua dayung pun terangkat mencoba menyeimbangkan agar tak terbalik. Peran tugas jaring dan kail menggantikan suasana. Mendepakan umpan dan rangkaian gerak tali-temali meraih isi bawah air yang kaya di bumi belantara ini. Galangan menjadi kunci setiap tetes keringat dengan berjuta hasil bawah air yang beraneka. Mengisahkan tersendiri sebuah kepuasan di setiap pencarian.
Sore. Setiap jengkal jaring dan kail mulai terangkat perlahan, terduduk kembali dalam tempat yang sama di galangan. Kedua dayung tak kuasa di tinggalkan. Ikut nimbrung di atas rotan yang sedikit basah karenanya. Deru gema pun bersua, kembali menepis riak gelombang, kembali terarah ke tepian. Tepi sebuah sandaran buritan, yang kelak esok dapat mengisahkan perjalanannya sampai kemudian. Tak pernah hilang, dan tak ingin hilang. Karena menjadi ciri khas untuk diceritakan dalam suasana rantau ilham.
Kelotok: perahu kecil di ranah Borneo
Dia dalam senandung yang kembali
Alam Tambun Bungai sejenak terpisahkan dalam cerita perjalanan. Tampilan pijakan kuliner yang selama beberapa tahun telah mengisahkan cita rasa dan rangkaian harum yang setiap hari senantiasa menemani perjalanan itu, kini harus dihentikan. Pulang. Meninggalkan sejumlah cerita yang berujung kenangan. Tampilan kenangan dalam nyanyian putih yang melarutkan nyayian hitam petualangan. Kembali dalam cerita awal, awal seperti sejumlah mata memandang keindahan pertama alam kehidupan.
Seketika tiba, sosok orang kedua yang dibanggakan, penuntun arah dalam doa dan restunya yang dulu menyertai perjalanan itu, hilang, pergi dan tak akan terlihat lagi. Namun, senantiasa masih melekat, menyisakan sejumlah amanah untuk selalu bertahan dikemudian.
Kehilangan bukanlah berarti lenyap. Seperti hal-hal kemarin, berusaha untuk tegar, tabah dalam menghadapi. Karena sejumlah perjalanan mesti dilanjutkan. Memulai dari hal-hal nol kembali di tempat biasa. Mengartikan gelar yang sementara tertunda dulu, dalam senandung yang disembunyikan sejenak.
Sekarang, senandung itu telah kembali dalam proses sempurna, lewat senyum seseorang yang menghantarkan sebuah pijakan editorial. Pijakan untuk selalu ingin memunculkan keberartian yang sesesungguhnya. Kelak menjadi pijakan-pijakan yang sama untuk akhir sebuah perjalanan yang baik. Semoga ............
Proses kehidupan yang terlalui :
marketing, penulis, kuliner, editor, sampai ...........???
Kenna!!!, di Persinggahan Terakhirnya
……………Dalam perjalanan itu, tak henti-hentinya ia bertanya. “apakah ia telah sampai?”.ternyata jawabannya “belum”. Ia masih berfikir dua kali untuk itu. “kenapa belum?”, karena memang belum selesai perjalanan itu. Ia lantas kembali melangkah hingga mencapai apa yang semestinya dicari.
………….Saat pagi menjelang senja dan berlanjut ke malam. Tiada hentinya melangkah. Sebentar istirahat, kemudian melanjutkan hingga sekian waktu memaksanya untuk kembali bertanya. “sudahkah aku sampai?” ternyata jawabannya pun sama. “untuk sementara belum,” jawabnya lagi.
………….tanpa menggubris, ia teruskan langkahnya. Temaram pelita yang menyala redup, tak hentinya terus menerangi. Seolah samar-samar membantunya berjalan pelan.
…………sempat ia lelah, namun sempat pula berfikir, bukan saatnya mengadu dan mengeluh, karena ia belum sepenuhnya berjalan, ia tahu, karena ia mesti terjungkal dulu, baru kemudian bangun lagi………
………………..hingga suatu saat, ia berhenti sebentar, karena perlu mengusap keringatnya. Dan menuliskan hal-hal yang terekam dalam pandangan, agar kelak ia bisa menceritakan apa saja yang nampak. Dan sekedar untuk memberitahukan kepada seseorang yang membuatnya bertahan.
………..lain halnya, ia sendiri adalah penulis, pujangga dalam sebuah tanya. Sehingga wajar, jika ia harus mengumpulkan informasi dan inspirasi yang didapatnya, agar kelak ia mampu mewujudkan aktualisasinya…………….
…………..Sejenak, ia pun kembali melanjutkan perjalanan itu, terasa semakin mudah, karena terobati disaat berhenti tadi. Ia sempat berfikir, kenapa tidak sedari tadi ia istirahat, daripada terus bertanya tentang pencapaian perjalanan, walaupun jawabannya diketahui “belum”
……………..Semakin berjalan, ia tak hentinya berujar tentang sesuatu dalam empat tujuan pencapaian, yakni; 1) harapan masa depan, 2) Tanggung jawab kepatuhan, 3) Pengamalan ilmu, 4) Perihal jodoh. Empat tujuan yang harus ditempuh dalam setiap tahapan kesatuan. Dikombinasikan dalam proses panjang untuk mengganti kelelahan perjalanan itu.
……………….Selanjutnya ia berusaha mengkombinasikannya dalam target . Untuk 1-3, ia telah mengerti , namun yang ke 4, tentang jodoh adalah sesuatu yang telah disunahkan untuk dijalani, namun untuk itu ia mesti melangkah melewati tahapan dari 1-3, barulah ketahap 4nya.
……………Sebenarnya ia pernah memunculkan jodohnya tanpa melewati 1-3, namun apa yang semestinya didapat, berkebalikan, karena ia tahu, tanpa melewati itu semua (1-3), semua tak berarti. Namun ia tidak pernah menyanggahnya, karena terkadang tanpa melewati itu semua, tahap ke 4 sudah didapatkannya, karena pertimbangan nasib dan kejadian yang luar biasa.
…………Semakin tak menentu, tapi dalam perjalanan mesti dilanjutkan, karena ia ingin mencapainya. Ia memang dibayangi oleh pikiran-pikiran itu, tapi ini sebuah anugerah, karena buatnya dengan pikiran-pikiran itu, ia tidak mudah jenuh, dan lebih leluasa untuk tetap menentukan arah yang benar, arah hidup yang ia tahu bukan hanya teori saja, melainkan harus dibuktikan kebenarannya.
……….Kenna, hingga suatu saat, ia berusaha dan benar-benar berhenti untuk mencapai titik tolak yang semestinya diperoleh. Sebuah persinggahan yang mengandung target-target dari tujuan itu. Sehingga hal itulah yang membuatnya lupa akan pertanyaannya dulu yang dirasakan jawabannya hanya itu-itu saja. Dan sekarang ia memiliki pertanyaaan “kenapa tidak untuk sebuah persinggahan itu, kenna. Sebuah pertanyaan yang belum sempat terjawab dikemudian.
……………….., hanya untuk orang-orang yang memiliki kepekaan jiwa.
…………Kenna; nanti (bahasa Banjar)
Merajut Tapal Ilalang Pasir
……ilalang itu bersandar sendirian di tanah berpasir. Terlihat kering berselimut debu. tampak tak seindah sedia kala dengan berjuta kehijauan dulu.
……..Pernah kehijauan menghiasnya bersama berjuta ilalang-ilalang yang semerbak menghias lapang tandus. Seakan terlihat keelokan disekitar panas bumi yang lambat-laun semakin tua.
………tapi kini, ilalang tinggallah ia sendiri, berjuta ilalang bersamanya tak pernah lagi ada. semua mati, semua abstrak karena tak mampu bertahan.
.............ia ilalang yang berusaha bertahan dengan apa yang tertinggal didirinya. ia tak mau mati, tergolek seperti berjuta ilalang lain, ia juga tak ingin abstrak. karena ia ingin surealisme dengan keadaan sekarang. Menampakkan sesuatu yang berbeda dengan dirinya yang tinggal merebah.
…………ilalang hanya ingin hidup, mewakili semua ilalang, untuk tetap dikenal dan tidak menjadi kenangan.
...............ilalang harus tetap bangkit di balik panas bumi. tak perlu mengeluh, karena angin senantiasa selalu menghembuskan debu, membawa segumpal awan, merintikkan hujan, meresap tahap dalam pasir. Walau terkadang air meresap terlalu dalam, namun setidaknya ilalang mampu menyerap sedikit untuk hidupnya. jangan pernah mati, selalu sejukkan bumi dalam tapal batasmu, ilalang…………
Dia yang Terlambat Bersenandung *Permenungan REZO*
…………di balik tirai halus yang tersikap kemarin, kini terlihat inovasi baru yang tak sempat terlihat oleh orang yang dibanggakan. Namun, ia tegar dan tetap bangkit, karena ia telah diridhoi untuk menemukan jalan itu,
lewat citra dan kharismatik yang diturunkan padanya.
Perlahan satu persatu ia lontarkan dalam sebuah pencarian, dalam mimipi yang dicitakan. namun, setiap pencarian tak selamanya mampu mendapat tapal batas yang jelas dan tercermin. Itupun hanya sebuah pengungkapan mengetuk pintu saja.
Tapi ini bukan akhir.
Walaupun hanya sejenak. Ia masih tetap berharap & berusaha, satu cerita akan tergapai dalam tema yang terus tertulis untuk sampai tahap ending esok. Semoga…………?
Fide in:
2007. Tahun terakhir meninggalkan civitas akademika di Solo. Sebuah perjuangan akhir studi yang tak sempat disaksikan oleh ayahanda, yang mendahului sebelum moment ini terbukti.
Seiring berlalu ia coba bercengkrama untuk mengartikan gelar yang didapatkannya. Satu persatu ia promosikan apa yang dimiliki, mulai dari tapal penerbitan sampai jurnalistik. sebuah jawaban kadang tidak selamanya Ya! , ia hanya bisa mengetuk pintu saja, karena sebuah persaingan dan motivasi ekonomi yang tak mampu dipenuhi perusahaan.
Lebih dari setahun, ia mencoba lewatkan gelarnya dengan sebuah tapal didunia pemasaran, sebulan ia menekuni. Namun hati berkata Tidak!. Ia mesti mundur perlahan, sebagai sebuah konsekuensi target yang tak tercapai. Ia kembali menoreh pijakan lagi. Lewat teman, ia dapat menemukan tapal penulisan, sebagai sseorang writer.
Ia coba aktualisasikan dengan menulis. Perlahan-lahan, namun kadang terjungkal ia selesaikan segala sesuatu yang menjadi tugasnya. Ia sebenarnya bisa. Namun apa yang semestinya diharapkan, tak dapat tergapai lagi untuk menjaga tapal itu terlepas. Lagi-lagi ia harus pergi.
Lambat laun ia habiskan ditempat yang tersembunyi. Tempat dimana, ia sendiri, dalam kesepian ia coba menulis beberapa hal, tentang cerita, tentang keindahan puitis, tentang syair, tentang skenario, tentang bait-bait alenia dalam rangkaian karya.
Juni 2008. Sebuah jawaban lain yang menghantarkan ia untuk berpetualang lintas bidang (kuliner) sampai hari ini diranah Tambun Bungai. Ia hanya berharap petualangan ini akan menumbuhkan aktualisasi dari setiap yang diharapkan. Memang terlambat, tapi semoga senandung itu akan selalu mengalun dalam perjalanan kemudian. Restuillah!
catatan perjalanan
Catatan Perjalanan Palangkaraya I
*rosid*
v 21 Juni ’08 (sore) ; tertulis pesan singkat………..”bro, tawaran kerja di RM Wong Solo palangka raya, Kalteng , berkas lamaran segera malam ini klo berminat……….”
v 21 Juni ’08 (malam); membawa berkas lamaran. bertemu dengan manajer Solo. memastikan kemauan berangkat. diperoleh kata sepakat. tinggal pemberangkatan.
v 22 Juni ’08 (siang); meminta izin ibu dan persiapan seadanya.
v 22 Juni ’08 (sore); briefing keberangkatan (pemberian tiket kapal laut).
v 22 Juni ’08 (pkl. 17.00); pamit pada keluarga dan berziarah ke makam ayah sejenak.
v 22 Juni ’08 (isya); berkumpul di RM Wong Solo cab. Solo untuk persiapan keberangkatan.
v 22 Juni ’08 (pkl. 21.00); travel solo menuju Tanjung Perak Surabaya.
v 23 Juni ’08 (pk. 05.00 pagi); travel solo sebentar mampir di RM Mie Kocok cab, Surabaya. diberangkatkan dengan colt sayur ke tanjung perak Surabaya.
v 23 Juni ’08 (pk. 07.00 pagi); pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. mulai memasuki kapal RORO PT Darma Laut Nusantara III. kapal perlahan meninggalkan tanjung perak Surabaya menuju pelabuhan Banjarmasin.
v 23 juni ’08 (malam); di atas kapal RORO, ditengah laut Jawa (tanpa sinyal HP). tidak kebagian tempat duduk. tidur di atas geladak kapal melihat langit. ombak begitu besar malam ini. dingin, bro!
v 24 Juni ‘08 (pagi); kapal merapat dipelabuhan Bandarmasih (banjarmasin). sejenak menikmati mie bakso dan mie ayam, sambil menunggu jemputan.
v 24 Juni ’08 (siang WITA); Angkutan orange (disebut taksi) membawa kami ke RM Wong Solo Cab. Banjarmasin. sempat makan. lalu diberangkatkan ke palangka raya menggunakan travel.
v 24 Juni ’08 (pk. 13.35); travel berhenti sejenak disuatu tempat (diketahui daerah Pulang Pisau, wilayah Kalteng). sempat membasuh muka. minum Aqua, tidak makan. sudah kenyang perjalanan.
v 24 juni ’08 (maghrib); travel memasuki palangka raya, Kalteng. sampai di RM Wong Solo cab. Kalteng.
v 24 Juni ’08 (malam) istirahat sejenak (di mess bekas veteran asal wonogiri). brieffing sebentar untuk perencanaan training kerja.
v 25 Juni ’08 (pagi); training kerja di Mie Kocok cab. palangka raya (satu tempat dengan manajemen RM Wong Solo). training memakai baju putih yang sempat dibeli dipasar dengan uang saku seharga 60 ribu.
v 26 Sep ’08 ; menjadi karyawan tetap di Mie kocok Bandung cab. Palangka raya. (saat HUT-RI, Lebaran tahun 2008, Idul adha 08, akan diceritakan selanjutna).
v 25 Nop ‘08 ; panggilan tes kerja diharian umum Kalteng pos.
v 26 Nop ’08; diterima kerja editor kalteng pos. 2 hari kerja. keluar. (ada alasan sendiri yang tidak dapat disampaikan, klo pingin tahu hub. saya).
v 15 Des ’08; smentara menggantikan kepala produksi Mie Kocok Bandung.
v 2 Jan 2009; Kepala produksi Mie Kocok Bandung Cab. Palangka raya sampai sekarang…………..(hal-hal tentang pekerjaan, cinta, dll, diceritakan selanjutnya).
TOBE CONTINUED…………………..
INISIAL REZO
..., Kenapa Rezo
begitu ramai disebut, ...
..., memang sebuah kesengajaan ketika seorang teman (notabene kelas 2) satu kelas di tingkat lanjutan pertama mengatakan dalam candanya untuk sebuah fakta pertahanan Atlatik Utara (NATO) dalam mata pelajaran Sejarah, yang disebut-sebut memiliki keterkaitan plesetan nama khas orang Jawa “Narto.” Sehingga imbasnya, seluruh penghuni kelas mau tidak mau harus memiliki nama inisial Jawa sebagai sebutan/plesetan, mulai dari nama orang tua mereka sampai nama-nama khas Jawa yang erat dengan budaya. ...
..., itulah sebabnya, ketika nama asli tidak dapat diplesetan atau dikait-kaitkan dengan khas Jawa, maka dipaksakan untuk mengambil huruf pertama dari nama asli. Berhubung nama asli mulai dari huruf R. Maka melalui proses penelusuran, didapatkan nama-nama diantaranya adalah Ratno, Rasimo, Ramto. ...
..., hanya saja ketiga nama tersebut kurang begitu mengena ketika mau diambil dengan alasan sebagai berikut.
- Nama Ratno, sudah ada teman yang memiliki, seorang bernama Suratno atau Bon Jovi (sebutan nama lain sebelumnya) tidak mau namanya dijamak atau digandakan, karena sudah ia patenkan dalam absensi kelas, dan menurutnya sangat riskan kalau dipakai karena orang tuanya sudah mendaftarkannya di Kantor Catatan Sipil.
- Nama Rasimo juga tidak begitu mengena, karena dengar kabar waktu itu, yang bersangkutan ikut menjadi korban kebakaran pada peristiwa tragedi 1997, gara-gara ikut menjarah cat dari toko bangunan di kotanya.
- Nama Ramto juga tidak bisa dipakai dan bila dengar nama orang itu, pasti merasa keder dan ketakutan, karena yang bersangkutan pernah menjadi Satpam jaga yang terkenal galak. Maklum karena waktu itu, dari sekian Satpam, hanya ia yang boleh membawa borgol besi.
..., jelas ketiga nama tersebut tidak dapat mengena karena alasan-alasan di atas, sebenarnya ada satu nama lain yang bisa masuk dalam kategori, namun lebih tidak mengena lagi alias sangat riskan dipakai dan jarang sekali orang ingin memakainya, karena kalau diartikan sangat-sangat tidak pas, karena nama itu adalah Rasido, ...
..., setelah berbagai hal pemikiran dengan usaha mengingat-ingat, akhirnya ditemukan nama Reso. Nama itu diambil dengan alasan sebagai berikut.
- Segi etimologis, reso adalah bhaurekso (kamus jawa), diartikan sebagai penjaga suatu hal yang berkaitan dengan tempat, suasana, aktivitas kehidupan. Penjaga yang tetap, tidak akan meninggalkannya sampai benar-benar tidak ada yang dijaganya.
- Segi etimologis (Kamus english), reso terbagi menjadi re dan so, re adalah kembali, so adalah jadi/juga. Sehingga reso artinya jadi/juga kembali. Lebih pada pemaknaan sebagai berikut.
- Terlahir kembali sebagai seorang yang sempurna dan memiliki harapan ke depan (menurut q).
- Unsur-unsur retakan yang menyatu kembali menjadi sesuatu yang berarti dan bermanfaat bagi kehidupan (bukan pendalaman ilmu rawarontek/Ini juga menurut q lagi).
- Orang yang bepergian jauh/petualang yang memiliki harapan pulang kembali untuk membangun tempat dan suasana dalam kehidupan terlahirnya sebagai pengembangan ilmu atau pengalaman yang didapat dari petualangan itu (pengalaman yang baik-baik, dan perlu dikembangkan).
- Unsur penyerapan nama, reso memiliki kesamaan nama Resa/Reza. Hal ini dapat dikait-kaitkan dengan nama-nama penyanyi-penyanyi terkenal (famous singers), seperti reza Artamevia dan Reza Herlambang. Jadi, ada kemungkinan kesamaan nama itu, syukur-syukur kehidupannya tidak akan jauh dari kepiawaian mereka dalam tarik suara (dapat dibuktikan pernah mengisi pentas 17 an di desa-desa).
- Dan seterusnya ...
Sebenarnya masih banyak nama Reso yang dapat dikait-kaitkan dengan hal-hal lain, namun masih dalam proses pencarian. Di samping itu, karena penulisan ini dilakukan pada tengah malam yang disertai rasa ngantuk yang sangat, sehingga harus dibatasi sampai di sini dulu.
Tidak dapat dipungkiri, karena khawatir yang punya nama pungki akan mrengut, karena namanya diakhiri -ri, sehingga nama Reso adalah flashback dari keterangan-keterangan di atas. Mungkin bukan sebuah rekayasa, tapi sesuatu yang terlihat dipaksakan, mungkin! Tinggal bagaimanalah menilainya. Kesamaan nama yang tertera bukanlah untuk menjatuhkan, melainkan hanya sebagai guyon maton yang mendukung penulisan.
Jika merasa belum mengenal nama aslinya dan takut melupakan, diharapkan untuk menyebut Reso sebanyak dua kali saja nama tersebut, karena kalau tiga kali sudah sering dilakukan orang untuk menandai penekanan (aksen) dalam sebuah pernyataan/penyebutan.
Akhirnya, kekhawatiran dan ketakutan hidup di masa tua, akan dapat dihilangkan, jika kita tetap mengedepankan senyum dan berusaha berpikir bahwa kita akan tetap muda selayaknya, walaupun kenyataannya sudah benar-benar lanjut . Thanks for all. Mohon maaf lahir & batin.
4 Des 2010
Rosid Speziale Reso
Langganan:
Komentar (Atom)

