Selasa, 22 Maret 2011

Merajut Tapal Ilalang Pasir


……ilalang itu bersandar sendirian di tanah berpasir. Terlihat kering berselimut debu. tampak tak seindah sedia kala dengan berjuta kehijauan dulu.

……..Pernah kehijauan menghiasnya bersama berjuta ilalang-ilalang yang semerbak menghias lapang tandus. Seakan terlihat keelokan disekitar panas bumi yang lambat-laun semakin tua.

………tapi kini, ilalang tinggallah ia sendiri, berjuta ilalang bersamanya tak pernah lagi ada. semua mati, semua abstrak karena tak mampu bertahan.

.............ia ilalang yang berusaha bertahan dengan apa yang tertinggal didirinya. ia tak mau mati, tergolek seperti berjuta ilalang lain, ia juga tak ingin abstrak. karena ia ingin surealisme dengan keadaan sekarang. Menampakkan sesuatu yang berbeda dengan dirinya yang tinggal merebah.

…………ilalang hanya ingin hidup, mewakili semua ilalang, untuk tetap dikenal dan tidak menjadi kenangan.

...............ilalang harus  tetap bangkit di balik panas bumi. tak perlu mengeluh, karena angin senantiasa selalu menghembuskan debu, membawa segumpal awan, merintikkan hujan, meresap tahap dalam pasir. Walau terkadang air meresap terlalu dalam, namun setidaknya ilalang mampu menyerap sedikit untuk hidupnya. jangan pernah mati, selalu sejukkan bumi dalam tapal batasmu, ilalang…………

Tidak ada komentar:

Posting Komentar