Selasa, 22 Maret 2011

Dia yang Terlambat Bersenandung *Permenungan REZO*

 
…………di balik tirai halus yang tersikap kemarin, kini terlihat inovasi baru yang tak sempat terlihat oleh orang yang dibanggakan. Namun, ia tegar dan tetap bangkit, karena ia telah diridhoi untuk menemukan jalan itu,
lewat citra dan kharismatik yang diturunkan padanya.

Perlahan satu persatu ia lontarkan dalam sebuah pencarian, dalam mimipi yang dicitakan. namun, setiap pencarian tak selamanya mampu mendapat tapal batas yang jelas dan tercermin.  Itupun hanya sebuah pengungkapan mengetuk pintu saja.
Tapi ini bukan akhir.

Walaupun hanya sejenak. Ia masih tetap berharap & berusaha, satu cerita akan tergapai dalam tema yang terus tertulis untuk sampai tahap ending esok. Semoga…………?


Fide in:

2007. Tahun terakhir meninggalkan civitas akademika di Solo. Sebuah perjuangan akhir studi yang tak sempat disaksikan oleh ayahanda, yang mendahului sebelum moment ini terbukti.
Seiring berlalu ia coba bercengkrama untuk mengartikan gelar yang didapatkannya. Satu persatu ia promosikan apa yang dimiliki, mulai dari tapal penerbitan sampai jurnalistik. sebuah jawaban kadang tidak selamanya Ya! , ia hanya bisa mengetuk pintu saja, karena sebuah persaingan dan motivasi ekonomi yang tak mampu dipenuhi perusahaan.
Lebih dari setahun, ia mencoba lewatkan gelarnya dengan sebuah tapal didunia pemasaran, sebulan ia menekuni. Namun hati berkata Tidak!. Ia mesti mundur perlahan, sebagai sebuah konsekuensi target yang tak tercapai. Ia kembali menoreh pijakan lagi. Lewat teman, ia dapat menemukan tapal penulisan, sebagai sseorang writer.

Ia coba aktualisasikan dengan menulis. Perlahan-lahan, namun kadang terjungkal ia selesaikan segala sesuatu yang menjadi tugasnya. Ia sebenarnya bisa. Namun apa yang semestinya diharapkan, tak dapat tergapai lagi untuk menjaga tapal itu terlepas. Lagi-lagi ia harus pergi.
Lambat laun ia habiskan ditempat yang tersembunyi. Tempat dimana, ia sendiri, dalam kesepian ia coba menulis beberapa hal, tentang cerita, tentang keindahan puitis, tentang syair, tentang skenario, tentang bait-bait alenia dalam rangkaian karya.

Juni 2008. Sebuah jawaban lain yang menghantarkan ia untuk berpetualang lintas bidang (kuliner) sampai hari ini diranah Tambun Bungai. Ia hanya berharap petualangan ini akan menumbuhkan aktualisasi dari setiap yang diharapkan. Memang terlambat, tapi semoga senandung itu akan selalu mengalun dalam perjalanan kemudian. Restuillah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar