Selasa, 22 Maret 2011

                          Bapak & Ibu 
("Terima kasih tuk hal2 yang tlah tersampaikan untuk anakmu")

Begitu banyak hal terindah tersampaikan
dalam hatimu untuk dunia
Berjuta nasihat bak perhiasan jernih
tertanam dalam langkah-langkah ini

Semesta bijak merengkuh jiwa
yang kini menghilang tanpa lelah
Menaungi wacana suci dalam garis pena
mengukir indah prasasti untuk anakmu

Jauh menghilang dalam perjalanan hidup
berpetualang bahagia menghadap pencipta
Yang tetap hidup dalam kesejukan
tak pernah mati, tak terkikis habis

Semua bangga mendamai harum 
Ku nanti perjumpaan kelak
dalam ukiran bahagia disana
INTERPRETASI BUNGA

Taman ini sengaja untuk bunga,
biar bisa bercengkrama. Pagi ini
terlihat mekar menghias harum langkah sunyi.
Tanpa air mata, tanpa denyut nadi.

Sintesa kecil coba merenung, wajah-wajah sayu,
letih tanpa arti. Hanya interpretasi saat ini. keraguan atas hidup,
atas pijak terhenti. Akankah semu semakin berpijar
bila seharum tak berharap datang.

Seperti telah hilangkan warna kelopak
ketika ranting terlelah menyangga, gugur layu
di taman sekian kali kita berbagi.

Seindah memori kini berujar
telah mati cerita taman. Coba renungkan
harum masa lalu di taman ini sendiri.

Sidoarjo, 30 September 2005
                                                       BERBALIK ARAH
Galih pagi ini terlalu bising merangkai sebuah kata-kata penting untuk Tina. Wajar Galih tidak mampu mengungkapkan kata-kata itu seumur hidupnya, bukan sebuah alasan dia tidak pernah mengungkapkan kata-kata itu sebelumnya, namun sekarang yang dia hadapi adalah seorang Tina yang sedang membumbung tinggi kariernya di entertainment. Terlalu berat bagi Galih ketika pertama kali menginjakkan kakinya di perumahan elite milik keluarga Tina, kalau tidak teguran satpam dan sigap Herder yang menyalak bila terlalu asing melihat orang. Namun Galih bukan seorang kerdil yang terlalu pendek dilihat orang berbadan tinggi, kedewasaan sikap sedia menjadikan Galih wibawa dan membuat itu semua hilang dari benaknya.
“Pagi Pak! sapa Galih kepada pak satpam jaga.
“Pagi! Ada perlu apa?” sahut satpam sambil memandang Galih dengan sinis, seolah menginterograsinya.
“Bisa ketemu Tina Pak?
“Tina siapa? di sini tidak ada yang namanya Tina, kalau Tina pembantu ada di samping perumahan ini’ kata satpam ketus.
“Bukan Tina itu Pak! Tina yang sekarang terkenal itu!”
“Tina toon!”
“Bukan Pak!” kata Galih sedikit kesal dan memutuskan untuk pergi saja daripada semakin ruwet urusannya.
Dalam perjalanannya diwarnai kejengkelan dan sedikit mengumpat pada satpam yang baru saja ditemui, padahal menurutnya, perumahan tadi benar milik Tina. Terbayang hasrat untuk mengungkapkan seakan tiada arti lagi di hati Galih, sejumlah kata-kata yang telah disusunnya seolah sudah tidak ingin menjadi bagian dari pikirannya, semua sirna ketika Galih jatuh dari tempat tidurnya.
“Sialan” umpat Galih meringis kesakitan.
“Lih....Galih cepat bangun! Teriak mBoknya.
“Iya mBok!” Sahut Galih dan beranjak keluar dari kamar tidurnya.
“Ada apa mBok?”
“Begini Lih, mBok sekarang mau tirakatan pernikahan Sumi, kamu jaga rumah dulu, soalnya Pak kades katanya mau ke sini ngurus sertifikat tanah” kata simbok sambil membenahi kebayanya.
“Ah simbok! Kan ada Nunik?”
“Nunik mau ikut tirakatan sama simbok, kamu saja yang jaga rumah”
“Ya sudah kalau begitu” kata Galih sambil menulisi amplop sumbangan.
Galih terbayang ketika pertama kali dia bertemu Tina dalam acara Talk Show di Solo Grand Mall, Galih pernah menjadi panitia acara tersebut, sehingga wajar bila Galih mengenal Tina. Semangat juang Galih dalam menarik simpati Tina terobsesi oleh pepatah jawa Tak akan lari gunung dikejar menjadikan Galih mempunyai niat untuk mengenal Tina lebih jauh.
Bait-bait syair lagu kembali memecah keheningan rumah Galih, suara penyiar radio GSM dengan lembutnya mengisi suasana diri seorang mahasiswa semester tujuh ini. Lagu-lagu Ebiet terdengar mengalun seakan tahu Galih sedang mendendam rasa hatinya yang kacau, yang merindukan di mana gerangan Tina sebagai curahan rasa sayangnya itu.
“tulalit.......tulalit.........” Suara dering ringtone sms. Tertulis pesan sms berbunyi:
Mas Galih, skrg q di SGM, u bs ke sni ndak?, Tina.
Sender:
+6285677963215
Kontan Galih tersenyum setelah membaca pesan sms tersebut, wajah muram yang bergelanyut dari tadi siang kini berubah menjadi warna cahaya, jiwa Galih semakin terasa kuat untuk segera menemui Tina yang telah menjadi pujaannya itu.
Solo Grand Mall kini ramai, pusat tongkrongan anak muda Solo ini tampak begitu indah dilihat Galih, karena keindahannya tidak hanya gedungnya, namun kehadiran Tina di tempat ini membuat dirinya mengagumi pusat perbelanjaan ini. Peluh semakin menetes di wajah Galih, namun niatnya untuk segera menemui Tina semakin membuat dirinya bersemangat.
Di tengah kerumunan anak muda, Galih sudah tidak memperdulikan lagi, setengah berlari sambil melihat kanan-kiri kalau saja Tina sudah dilihatnya ataupun Tina melihat kedatangannya. Namun lebih dari satu jam mencari ternyata wajah Tina tidak kelihatan.
Galih bersandar pada pagar pembatas lantai tiga sambil mengusap peluh yang sedari tadi terus mengucur dari wajahnya. Di antara lelah, Galih mencoba untuk kembali mencari Tina, namun ternyata hasilnya sama saja sampai terdengar dari pengeras suara memberitahukan kalau lima belas menit lagi Solo Grand Mall akan segera tutup.
Dengan langkah gontai, Galih beranjak meninggalkan tempat itu. Wajah murung kembali menyapa Galih dan dia kini terlelap di ranjang tidurnya, bahkan omelan simboknya kini sudah tidak terdengar lagi ditelinganya
Galih tak menyadari kekeliruannya, sebenarnya sms Tina memang diterima Galih hari ini, namun Tina mengirimnya satu minggu kemarin, kecerobohan memang menjadikan semuanya tanpa disadari dan menuai hasil lelah.
“Pak, kalau ada yang mencari saya, namanya Galih, suruh masuk saja, biasanya dia memanggil saya Tina.” kata Tina kepada satpam rumahnya.
Sebuah pertanyaan? mengapa Galih tidak ke rumah Tina, apakah dia terlalu takut mimpinya menjadi kenyataan.
081007, sukoharjo
Di seberang Laut

Dalam terang di seberang laut
mengikis catatan tersendiri
riak ombak itu. Tengadah
Mengatup ramai sejenak

Dalam desah di pulau hijau
mengukir bait sepenggal
raut belantara. Terpekur
menampar kesadaran khayal

Dalam sangkaan derai sungai
mentahtakan haluan kelotok
mendayung papan. Tergerus
melintasi sejuta pesona gelombang

Dalam sisi buram mimpi
menghantar bunga-bunga ulin
mengharum batang. Tergores
senyum ide tinta rajah

Dalam pesona mahligai
memfilosofi tentang harapan
temaram cahaya. Bernostalgia
melambai titik terang batas

Paray, 29 March 2010




Senyum ‘Kelotok’ Rantau
 
   Pagi. Tersandar dalam tautan buritan. Sepercik embun menempel di dua buah dayung yang tersusun rapi di atas tali rotan yang tergulung bulir-bulir serabut. Sejenak meliuk-liuk disapu kecil gelombang sungai yang beriak. Sepintas terlihat gulungan jaring dan kail yang ikut pula bersandar di tengah galangan yang berusaha mendepa umpan untuk meraih isi bawah air.
  Siang. Sandaran tautan buritan terlepas, dengan deru sedikit menggema meninggalkan tepi riak menuju ke tengah. Selintas kelok-kelok air mengikuti langkah itu. Menghempas sedikit gelombang yang memecah sampingnya. Beranjak lepas, kadang membelah riak, kadang ikuti riak yang menghantarkan dalam perjalanannya. Sampai di tengah dengan deru semakin mengecil dan lambat laun meredup. Hanya kelok bergoyang-goyang berdansa searah lambaian. Kedua dayung pun terangkat mencoba menyeimbangkan agar tak terbalik. Peran tugas jaring dan kail menggantikan suasana. Mendepakan umpan dan rangkaian gerak tali-temali meraih isi bawah air yang kaya di bumi belantara ini. Galangan menjadi kunci setiap tetes keringat dengan berjuta hasil bawah air yang beraneka. Mengisahkan tersendiri sebuah kepuasan di setiap pencarian.
  Sore. Setiap jengkal jaring dan kail mulai terangkat perlahan, terduduk kembali dalam tempat yang sama di galangan. Kedua dayung tak kuasa di tinggalkan. Ikut nimbrung di atas rotan yang sedikit basah karenanya. Deru gema pun bersua, kembali menepis riak gelombang, kembali terarah ke tepian. Tepi sebuah sandaran buritan, yang kelak esok dapat mengisahkan perjalanannya sampai kemudian. Tak pernah hilang, dan tak ingin hilang. Karena menjadi ciri khas untuk diceritakan dalam suasana rantau ilham.

Kelotok: perahu kecil di ranah Borneo

Dia dalam senandung yang kembali

   Alam Tambun Bungai sejenak terpisahkan dalam cerita perjalanan. Tampilan pijakan kuliner yang selama beberapa tahun telah mengisahkan cita rasa dan rangkaian harum yang setiap hari senantiasa menemani perjalanan itu, kini harus dihentikan. Pulang. Meninggalkan sejumlah cerita yang berujung kenangan. Tampilan kenangan dalam nyanyian putih yang melarutkan nyayian hitam petualangan. Kembali dalam cerita awal, awal seperti sejumlah mata memandang keindahan pertama alam kehidupan.
   Seketika tiba, sosok orang kedua yang dibanggakan,  penuntun arah dalam doa dan restunya yang dulu menyertai perjalanan itu, hilang, pergi dan tak akan terlihat lagi. Namun, senantiasa masih melekat, menyisakan sejumlah amanah untuk selalu bertahan dikemudian.
  Kehilangan bukanlah berarti lenyap. Seperti hal-hal kemarin, berusaha untuk tegar, tabah dalam menghadapi. Karena sejumlah perjalanan mesti dilanjutkan. Memulai dari hal-hal nol kembali di tempat biasa. Mengartikan gelar yang sementara tertunda dulu, dalam senandung yang disembunyikan sejenak.
  Sekarang, senandung itu telah kembali dalam proses sempurna,  lewat senyum seseorang yang menghantarkan sebuah pijakan editorial.  Pijakan untuk selalu ingin memunculkan keberartian yang sesesungguhnya. Kelak menjadi pijakan-pijakan yang sama untuk akhir sebuah perjalanan yang baik. Semoga ............

Proses kehidupan yang terlalui :
marketing, penulis, kuliner, editor, sampai ...........???

Kenna!!!, di Persinggahan Terakhirnya

……………Dalam perjalanan itu, tak henti-hentinya ia bertanya. “apakah ia telah sampai?”.ternyata jawabannya “belum”. Ia masih berfikir dua kali untuk itu. “kenapa belum?”, karena memang belum selesai perjalanan itu. Ia lantas kembali melangkah hingga mencapai apa yang semestinya dicari.
………….Saat pagi menjelang senja dan berlanjut ke malam.  Tiada hentinya melangkah. Sebentar istirahat, kemudian melanjutkan hingga sekian waktu memaksanya untuk kembali bertanya. “sudahkah aku sampai?” ternyata jawabannya pun sama. “untuk sementara belum,” jawabnya lagi.
………….tanpa menggubris, ia teruskan langkahnya. Temaram pelita yang menyala redup, tak hentinya terus menerangi. Seolah samar-samar membantunya berjalan pelan.
…………sempat ia lelah, namun sempat pula berfikir, bukan saatnya mengadu dan mengeluh, karena ia belum sepenuhnya berjalan, ia tahu, karena ia mesti terjungkal dulu, baru kemudian bangun lagi………
………………..hingga suatu saat, ia berhenti sebentar, karena perlu mengusap keringatnya. Dan menuliskan hal-hal yang terekam dalam pandangan, agar kelak ia bisa menceritakan apa saja yang nampak. Dan sekedar untuk memberitahukan kepada seseorang yang membuatnya bertahan.
………..lain halnya, ia sendiri adalah penulis, pujangga dalam sebuah tanya.  Sehingga wajar, jika ia harus mengumpulkan informasi dan inspirasi yang didapatnya, agar kelak ia mampu mewujudkan  aktualisasinya…………….
…………..Sejenak, ia pun kembali melanjutkan perjalanan itu, terasa semakin mudah, karena terobati disaat berhenti tadi. Ia sempat berfikir, kenapa tidak sedari tadi ia istirahat, daripada terus bertanya tentang pencapaian perjalanan, walaupun jawabannya diketahui “belum”
……………..Semakin berjalan, ia tak hentinya berujar tentang sesuatu dalam empat tujuan pencapaian, yakni; 1) harapan masa depan, 2) Tanggung jawab kepatuhan, 3) Pengamalan ilmu, 4) Perihal jodoh. Empat tujuan yang harus ditempuh dalam setiap tahapan kesatuan.  Dikombinasikan  dalam  proses panjang untuk mengganti kelelahan perjalanan itu.
……………….Selanjutnya ia berusaha mengkombinasikannya dalam target .  Untuk 1-3, ia telah mengerti , namun yang ke 4, tentang jodoh adalah sesuatu yang telah disunahkan untuk dijalani, namun untuk itu ia mesti melangkah melewati tahapan dari 1-3, barulah ketahap  4nya.
……………Sebenarnya ia pernah memunculkan jodohnya tanpa melewati 1-3, namun apa yang semestinya didapat, berkebalikan, karena ia tahu, tanpa melewati itu semua (1-3), semua tak berarti. Namun ia tidak pernah menyanggahnya, karena terkadang tanpa melewati itu semua, tahap ke 4 sudah didapatkannya, karena pertimbangan nasib dan kejadian yang luar biasa.
…………Semakin tak menentu, tapi dalam perjalanan mesti dilanjutkan, karena ia ingin mencapainya. Ia memang dibayangi oleh pikiran-pikiran itu, tapi ini sebuah anugerah, karena buatnya dengan pikiran-pikiran itu, ia tidak mudah jenuh, dan lebih leluasa untuk tetap menentukan arah yang benar,  arah hidup yang ia tahu bukan hanya teori saja, melainkan harus dibuktikan kebenarannya.
……….Kenna, hingga suatu saat, ia berusaha dan benar-benar berhenti untuk mencapai titik tolak yang semestinya diperoleh. Sebuah persinggahan yang mengandung target-target dari tujuan itu.  Sehingga hal itulah yang membuatnya lupa akan pertanyaannya dulu yang dirasakan jawabannya hanya itu-itu saja.  Dan sekarang ia memiliki pertanyaaan “kenapa tidak untuk sebuah persinggahan itu, kenna. Sebuah pertanyaan yang belum sempat terjawab dikemudian.

……………….., hanya untuk orang-orang yang memiliki kepekaan jiwa.
                                                                                                          …………Kenna;  nanti (bahasa Banjar)
Merajut Tapal Ilalang Pasir


……ilalang itu bersandar sendirian di tanah berpasir. Terlihat kering berselimut debu. tampak tak seindah sedia kala dengan berjuta kehijauan dulu.

……..Pernah kehijauan menghiasnya bersama berjuta ilalang-ilalang yang semerbak menghias lapang tandus. Seakan terlihat keelokan disekitar panas bumi yang lambat-laun semakin tua.

………tapi kini, ilalang tinggallah ia sendiri, berjuta ilalang bersamanya tak pernah lagi ada. semua mati, semua abstrak karena tak mampu bertahan.

.............ia ilalang yang berusaha bertahan dengan apa yang tertinggal didirinya. ia tak mau mati, tergolek seperti berjuta ilalang lain, ia juga tak ingin abstrak. karena ia ingin surealisme dengan keadaan sekarang. Menampakkan sesuatu yang berbeda dengan dirinya yang tinggal merebah.

…………ilalang hanya ingin hidup, mewakili semua ilalang, untuk tetap dikenal dan tidak menjadi kenangan.

...............ilalang harus  tetap bangkit di balik panas bumi. tak perlu mengeluh, karena angin senantiasa selalu menghembuskan debu, membawa segumpal awan, merintikkan hujan, meresap tahap dalam pasir. Walau terkadang air meresap terlalu dalam, namun setidaknya ilalang mampu menyerap sedikit untuk hidupnya. jangan pernah mati, selalu sejukkan bumi dalam tapal batasmu, ilalang…………

Dia yang Terlambat Bersenandung *Permenungan REZO*

 
…………di balik tirai halus yang tersikap kemarin, kini terlihat inovasi baru yang tak sempat terlihat oleh orang yang dibanggakan. Namun, ia tegar dan tetap bangkit, karena ia telah diridhoi untuk menemukan jalan itu,
lewat citra dan kharismatik yang diturunkan padanya.

Perlahan satu persatu ia lontarkan dalam sebuah pencarian, dalam mimipi yang dicitakan. namun, setiap pencarian tak selamanya mampu mendapat tapal batas yang jelas dan tercermin.  Itupun hanya sebuah pengungkapan mengetuk pintu saja.
Tapi ini bukan akhir.

Walaupun hanya sejenak. Ia masih tetap berharap & berusaha, satu cerita akan tergapai dalam tema yang terus tertulis untuk sampai tahap ending esok. Semoga…………?


Fide in:

2007. Tahun terakhir meninggalkan civitas akademika di Solo. Sebuah perjuangan akhir studi yang tak sempat disaksikan oleh ayahanda, yang mendahului sebelum moment ini terbukti.
Seiring berlalu ia coba bercengkrama untuk mengartikan gelar yang didapatkannya. Satu persatu ia promosikan apa yang dimiliki, mulai dari tapal penerbitan sampai jurnalistik. sebuah jawaban kadang tidak selamanya Ya! , ia hanya bisa mengetuk pintu saja, karena sebuah persaingan dan motivasi ekonomi yang tak mampu dipenuhi perusahaan.
Lebih dari setahun, ia mencoba lewatkan gelarnya dengan sebuah tapal didunia pemasaran, sebulan ia menekuni. Namun hati berkata Tidak!. Ia mesti mundur perlahan, sebagai sebuah konsekuensi target yang tak tercapai. Ia kembali menoreh pijakan lagi. Lewat teman, ia dapat menemukan tapal penulisan, sebagai sseorang writer.

Ia coba aktualisasikan dengan menulis. Perlahan-lahan, namun kadang terjungkal ia selesaikan segala sesuatu yang menjadi tugasnya. Ia sebenarnya bisa. Namun apa yang semestinya diharapkan, tak dapat tergapai lagi untuk menjaga tapal itu terlepas. Lagi-lagi ia harus pergi.
Lambat laun ia habiskan ditempat yang tersembunyi. Tempat dimana, ia sendiri, dalam kesepian ia coba menulis beberapa hal, tentang cerita, tentang keindahan puitis, tentang syair, tentang skenario, tentang bait-bait alenia dalam rangkaian karya.

Juni 2008. Sebuah jawaban lain yang menghantarkan ia untuk berpetualang lintas bidang (kuliner) sampai hari ini diranah Tambun Bungai. Ia hanya berharap petualangan ini akan menumbuhkan aktualisasi dari setiap yang diharapkan. Memang terlambat, tapi semoga senandung itu akan selalu mengalun dalam perjalanan kemudian. Restuillah!

catatan perjalanan

                          Catatan Perjalanan Palangkaraya I              
*rosid*

v     21 Juni ’08 (sore) ; tertulis pesan singkat………..”bro, tawaran kerja di RM Wong Solo palangka raya, Kalteng , berkas lamaran segera malam ini klo berminat……….”
v     21 Juni ’08 (malam); membawa berkas lamaran. bertemu dengan manajer Solo. memastikan kemauan berangkat. diperoleh kata sepakat. tinggal pemberangkatan.
v     22 Juni ’08 (siang); meminta izin ibu dan persiapan seadanya.
v     22 Juni ’08 (sore); briefing keberangkatan (pemberian tiket kapal laut).
v     22 Juni ’08 (pkl. 17.00); pamit pada keluarga dan berziarah ke makam ayah sejenak.
v     22 Juni ’08 (isya); berkumpul di RM Wong Solo cab. Solo untuk persiapan keberangkatan.
v     22 Juni ’08 (pkl. 21.00); travel solo menuju Tanjung Perak Surabaya.
v     23 Juni ’08 (pk. 05.00 pagi); travel solo sebentar mampir di RM Mie Kocok cab, Surabaya. diberangkatkan dengan colt sayur ke tanjung perak Surabaya.
v     23 Juni ’08 (pk. 07.00 pagi); pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. mulai memasuki  kapal RORO PT Darma Laut Nusantara III. kapal perlahan meninggalkan tanjung perak Surabaya menuju pelabuhan Banjarmasin.
v     23 juni ’08 (malam); di atas kapal RORO, ditengah laut Jawa (tanpa sinyal HP). tidak kebagian tempat duduk. tidur di atas geladak kapal melihat langit. ombak begitu besar malam ini. dingin, bro!
v     24 Juni ‘08 (pagi); kapal merapat dipelabuhan Bandarmasih (banjarmasin). sejenak menikmati mie bakso dan mie ayam, sambil menunggu jemputan.
v     24 Juni ’08 (siang WITA); Angkutan orange (disebut taksi) membawa kami ke RM Wong Solo Cab. Banjarmasin. sempat makan. lalu diberangkatkan ke palangka raya menggunakan travel.
v     24 Juni ’08 (pk. 13.35); travel berhenti sejenak disuatu tempat (diketahui daerah Pulang Pisau, wilayah Kalteng). sempat membasuh muka. minum Aqua,  tidak makan. sudah kenyang perjalanan.
v     24 juni ’08 (maghrib); travel memasuki palangka raya, Kalteng. sampai di RM Wong Solo cab. Kalteng.
v     24 Juni ’08 (malam) istirahat sejenak (di mess bekas veteran asal wonogiri). brieffing sebentar untuk perencanaan training kerja.
v     25 Juni ’08 (pagi); training kerja di Mie Kocok cab. palangka raya (satu tempat dengan manajemen RM Wong Solo). training memakai baju putih yang sempat dibeli dipasar dengan uang saku seharga 60 ribu.
v      26 Sep ’08 ; menjadi karyawan tetap di Mie kocok Bandung cab. Palangka raya. (saat HUT-RI, Lebaran tahun 2008, Idul adha 08, akan diceritakan selanjutna).
v     25 Nop ‘08 ; panggilan tes kerja diharian umum Kalteng pos.
v     26 Nop ’08; diterima kerja editor kalteng pos. 2 hari kerja. keluar. (ada alasan sendiri yang tidak dapat disampaikan, klo pingin tahu hub. saya).
v     15 Des ’08; smentara menggantikan kepala produksi Mie Kocok Bandung.
v     2 Jan 2009; Kepala produksi Mie Kocok Bandung Cab. Palangka raya sampai sekarang…………..(hal-hal tentang pekerjaan, cinta, dll, diceritakan selanjutnya).

                                                 TOBE  CONTINUED…………………..
                                                                                                           


                                                                                                                  

INISIAL REZO

..., Kenapa Rezo
begitu ramai disebut, ...

..., memang sebuah kesengajaan ketika seorang teman (notabene kelas 2) satu kelas di tingkat lanjutan pertama mengatakan dalam candanya untuk sebuah fakta pertahanan Atlatik Utara (NATO) dalam mata pelajaran Sejarah, yang disebut-sebut memiliki keterkaitan plesetan nama khas orang Jawa “Narto.” Sehingga imbasnya, seluruh penghuni kelas mau tidak mau harus memiliki nama inisial Jawa sebagai sebutan/plesetan, mulai dari nama orang tua mereka sampai nama-nama khas Jawa yang erat dengan budaya. ...
..., itulah sebabnya, ketika nama asli tidak dapat diplesetan atau dikait-kaitkan dengan khas Jawa, maka dipaksakan untuk mengambil huruf pertama dari nama asli. Berhubung nama asli mulai dari huruf R. Maka melalui proses penelusuran, didapatkan nama-nama diantaranya adalah Ratno, Rasimo, Ramto. ...
..., hanya saja ketiga nama tersebut kurang begitu mengena ketika mau diambil dengan alasan sebagai berikut.
  1. Nama Ratno, sudah ada teman yang memiliki, seorang bernama Suratno atau Bon Jovi (sebutan nama lain sebelumnya) tidak mau namanya dijamak atau digandakan, karena sudah ia patenkan dalam absensi kelas, dan menurutnya sangat riskan kalau dipakai karena orang tuanya sudah mendaftarkannya di Kantor Catatan Sipil.
  2. Nama Rasimo juga tidak begitu mengena, karena dengar kabar waktu itu, yang bersangkutan ikut menjadi korban kebakaran pada peristiwa tragedi 1997, gara-gara ikut menjarah cat dari toko bangunan di kotanya.
  3. Nama Ramto juga tidak bisa dipakai dan bila dengar nama orang itu, pasti merasa keder dan ketakutan, karena yang bersangkutan pernah menjadi Satpam jaga yang terkenal galak. Maklum karena waktu itu, dari sekian Satpam, hanya ia yang boleh membawa borgol besi.
..., jelas ketiga nama tersebut tidak dapat mengena karena alasan-alasan di atas, sebenarnya ada satu nama lain yang bisa masuk dalam kategori, namun lebih tidak mengena lagi alias sangat riskan dipakai dan jarang sekali orang ingin memakainya, karena kalau diartikan sangat-sangat tidak pas, karena nama itu adalah Rasido, ...
..., setelah berbagai hal pemikiran dengan usaha mengingat-ingat, akhirnya ditemukan nama Reso. Nama itu diambil dengan alasan sebagai berikut.
  1. Segi etimologis, reso adalah bhaurekso (kamus jawa), diartikan sebagai penjaga suatu hal yang berkaitan dengan tempat, suasana, aktivitas kehidupan. Penjaga yang tetap, tidak akan meninggalkannya sampai benar-benar tidak ada yang dijaganya.
  2. Segi etimologis (Kamus english), reso terbagi menjadi re dan so, re adalah kembali, so adalah jadi/juga. Sehingga reso artinya jadi/juga kembali. Lebih pada pemaknaan sebagai berikut.
  3. Terlahir kembali sebagai seorang yang sempurna dan memiliki harapan ke depan (menurut q).
  4. Unsur-unsur retakan yang menyatu kembali menjadi sesuatu yang berarti dan bermanfaat bagi kehidupan (bukan pendalaman ilmu rawarontek/Ini juga menurut q lagi).
  5. Orang yang bepergian jauh/petualang yang memiliki harapan pulang kembali untuk membangun tempat dan suasana dalam kehidupan terlahirnya sebagai pengembangan ilmu atau pengalaman yang didapat dari petualangan itu (pengalaman yang baik-baik, dan perlu dikembangkan).
  6. Unsur penyerapan nama, reso memiliki kesamaan nama Resa/Reza. Hal ini dapat dikait-kaitkan dengan nama-nama penyanyi-penyanyi terkenal (famous singers), seperti reza Artamevia dan Reza Herlambang. Jadi, ada kemungkinan kesamaan nama itu, syukur-syukur kehidupannya tidak akan jauh dari kepiawaian mereka dalam tarik suara (dapat dibuktikan pernah mengisi pentas 17 an di desa-desa).
  7. Dan seterusnya ...
Sebenarnya masih banyak nama Reso yang dapat dikait-kaitkan dengan hal-hal lain, namun masih dalam proses pencarian. Di samping itu, karena penulisan ini dilakukan pada tengah malam yang disertai rasa ngantuk yang sangat, sehingga harus dibatasi sampai di sini dulu.
Tidak dapat dipungkiri, karena khawatir yang punya nama pungki akan mrengut, karena namanya diakhiri -ri, sehingga nama Reso adalah flashback dari keterangan-keterangan di atas. Mungkin bukan sebuah rekayasa, tapi sesuatu yang terlihat dipaksakan, mungkin! Tinggal bagaimanalah menilainya. Kesamaan nama yang tertera bukanlah untuk menjatuhkan, melainkan hanya sebagai guyon maton yang mendukung penulisan.
Jika merasa belum mengenal nama aslinya dan takut melupakan, diharapkan untuk menyebut Reso sebanyak dua kali saja nama tersebut, karena kalau tiga kali sudah sering dilakukan orang untuk menandai penekanan (aksen) dalam sebuah pernyataan/penyebutan.
Akhirnya, kekhawatiran dan ketakutan hidup di masa tua, akan dapat dihilangkan, jika kita tetap mengedepankan senyum dan berusaha berpikir bahwa kita akan tetap muda selayaknya, walaupun kenyataannya sudah benar-benar lanjut . Thanks for all. Mohon maaf lahir & batin.

4 Des 2010
Rosid Speziale Reso